Hasil uji SPT sangat bergantung pada tipe alat yang digunakan dan pengalaman operator yang melakukan pengujian. Suatu hal yang penting supaya data yang diperoleh baik, adalah dengan memperhatikan efisiensi energi dari sistem. Dalam prakteknya, terdapat beberapa tipe pemukul, hampir tidak ada yang efisiensinya 100%.
Secara teoritis, energi jatuh bebas dari sistem pemukul dan tinggi jatuh yang diberikan adalah 48 kg-m (350 ft-lb), tapi ternyata energi sebenarnya lebih kecil dari nilai tersebut akibat dari gesekan dan eksentrisitas, yang nilainya bergantung pada tipe pemukulnya. Pada saat ini, banyak digunakan alat pengerek naik-turun pemukul secara otomatis, karena hasilnya mendekati kenyataan.
Rasio antara energi yang terkirim lewat batang bor dengan energi bila pemukul jatuh bebas, didefinisikan sebagai efisiensi energi pemukul. Besarnya efisiensi energi bergantung pada: batang penghantar, panjang batang bor, dan diameter bor diberikan oleh Skempton (1986) dan Kulhawy dan Mayne (1990).
Skempton (1983) meneliti pengaruh dari prosedur pengujian SPT terhadap nilai N-SPT yang diperoleh. Disimpulkan bahwa N-SPT harus dikoreksi terhadap cara jatuhnya pemukul, tipe landasan (anvil) dan panjang total batang pipa bor. Nilai standar efisiensi energi bervariasi antara 35 – 85%, bila digunakan pemukul donat atau pemukul aman.
Di Amerika dan Inggris rata-rata digunakan efisiensi energi 60%, untuk panjang batang bor lebih dari 10 m. Pada model pemukul otomatis terbaru, efisiensi energi bisa mencapai 80-100% bergantung pada tipe alat.
Saat ini, dalam perancangan pondasi telah banyak digunakan korelasi-korelasi yang didasarkan pada N-SPT dengan mengubah N terukur menjadi N60 (FHWA, 2006). N60 menyatakan nilai N-SPT dengan efisiensi energi 60%. Skempton (1986) menyarankan persamaan untuk mengkoreksi N dari lapangan dengan memperhatikan pengaruh prosedur pengujian, diameter lubang bor dan panjang batang bor:
N60 = 1/0,6 × Ef × Cb × Cs × Cr × N
Dimana:
N60 : NSPT telah dikoreksi
Ef : efisiensi pemukul
Cb : koreksi diameter lubang bor
Cs : koreksi oleh tipe tabung sampler SPT
Cr : koreksi untuk panjang batang bor
N : nilai NSPT hasil uji lapangan
Tabel 1.0 faktor koreksi SPT akibat pengaruh lubang bor, tabung sampler batang bor (Skempton, 1986)
Tabel 1.1 Efisiensi pemukul (Ef) (Clayton, 1990)
Contoh 1 :
Uji SPT dilakukan dengan tabung SPT standar dan pemukul tipe (buatan Amerika) pada pasir halus pada kedalaman 6 m. Kedalaman tersebut diperoleh N = 22. Lubang bor berdiameter 6 in. Muka air tanah pada kedalaman lebih dari 6 m. Hitungkan N60.
Tipe pemukul aman buatan Amerika Ef : 0,55 – 0,6 diambil 0,57.
Diameter lubang bor 150 mm, maka Cb : 1,05
Tabung SPT tipe standar Cs : 1
Panjang batang bor 6 m Cr : 0,85
N60 = 1/0,6 × Ef × Cb × Cs × Cr × N = 18,7
Dibulatkan N60 : 18
Diameter lubang bor juga berpengaruh terhadap nilai N. Telah diketahui bahwa jika diameter lubang bor 150 – 200 mm akan diperoleh N lapangan yang lebih besar dibandingkan dengan diameter lubang 115 mm (lihat tabel 1.0)
Keuntungan dan kerugian uji SPT adalah sebagai berikut:
• Keuntungan
Dapat diperoleh nilai N dan contoh tanah (terganggu).
Prosedur pengujian sederhana, bisa dilakukan secara manual.
Dapat digunakan pada sembarang jenis tanah dan batuan lunak.
Uji SPT pada pasir, hasilnya dapat digunakan secara langsung untuk memprediksi kerapatan relatif dan kapasitas dukung tanah.
• Kerugian
Sampel dalam tabung SPT diperoleh dalam kondisi terganggu.
Nilai N yang diperoleh merupakan data sangat kasar, bila digunakan untuk tanah lempung.
Derajat ketidakpastian hasil uji SPT yang diperoleh bergantung pada kondisi alat dan operator.
Hasil tidak dapat dipercaya dalam tanah mengandung banyak kerikil.
Sumber : Harry Christady Hardiyatmo
0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!